Desa Kendalpecabean
Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo
Sejarah Desa

Desa Kendalpecabean merupakan salah satu desa di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis, desa ini berada pada kawasan dataran aluvial yang dibentuk oleh sistem Sungai Brantas selama berabad-abad. Kesuburan tanah, keberadaan jaringan sungai, serta letaknya yang strategis menjadikan wilayah ini berkembang sebagai kawasan pertanian dan permukiman sejak masa lampau.
Salah satu unsur geografis yang memiliki peranan penting dalam perkembangan wilayah ini adalah Kali Bagepuk, saluran air yang melintasi kawasan Desa Kendalpecabean hingga Desa Kedungpeluk. Sejak dahulu, sungai dan saluran air di kawasan delta Brantas tidak hanya berfungsi sebagai sumber irigasi pertanian, tetapi juga menjadi jalur transportasi, distribusi hasil bumi, dan pembentuk pola permukiman masyarakat. Keberadaan Kali Bagepuk menjadi bagian dari lanskap sejarah yang membentuk kehidupan masyarakat Desa Kendalpecabean dan desa-desa di sekitarnya.
Wilayah Kendalpecabean juga memiliki keterkaitan sejarah dengan desa-desa tua di sekitarnya, seperti Kedungpeluk, Balongdowo, Larangan, dan Sumokali. Keseluruhan kawasan tersebut berkembang mengikuti karakter bentang alam delta Sungai Brantas yang kaya akan sumber daya air dan lahan pertanian. Hubungan antardesa membentuk jaringan sosial, budaya, dan ekonomi yang saling berkaitan sejak masa kerajaan hingga masa pemerintahan modern.
Kajian Toponimi Nama Desa
Nama Kendalpecabean terdiri atas dua unsur utama, yaitu Kendal dan Pecabean.
Istilah Kendal diperkirakan berasal dari nama permukiman lama, kondisi bentang alam, atau berkaitan dengan keberadaan Pohon Kendal (Cordia dichotoma), salah satu flora asli Nusantara yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan nama kendal. Dalam tradisi masyarakat Jawa, banyak nama desa diambil dari jenis tumbuhan yang tumbuh dominan atau menjadi penanda suatu wilayah. Oleh karena itu, Pohon Kendal dapat dipandang sebagai simbol ekologis sekaligus identitas yang memperkuat karakter Desa Kendalpecabean.
(Kendal/Wikipedia)
Sementara itu, istilah Pecabean diduga berasal dari kata Pabean, yaitu tempat pemungutan bea atau cukai atas barang perdagangan. Sejak masa Kerajaan Majapahit, kemudian berlanjut pada masa Kesultanan Mataram, VOC, hingga Pemerintah Hindia Belanda, istilah pabean digunakan untuk menyebut kawasan perdagangan, pelabuhan sungai, atau tempat keluar masuk barang. Letak Desa Kendalpecabean yang berada di kawasan hilir Sungai Brantas dan tidak jauh dari jalur Sungai Porong memberikan dugaan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari jaringan distribusi hasil pertanian dan perdagangan pada masa lalu.
Dengan demikian, nama Kendalpecabean dapat diinterpretasikan sebagai sebuah permukiman tua bernama Kendal yang berkembang di sekitar kawasan perdagangan atau jalur distribusi hasil bumi. Interpretasi ini merupakan hasil kajian toponimi dan geografi sejarah yang masih memerlukan penguatan melalui penelitian arsip dan bukti sejarah primer.
Keterkaitan dengan Sejarah Kabupaten Sidoarjo
Sejarah Desa Kendalpecabean tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kabupaten Sidoarjo. Kawasan yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo pada masa lampau merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Janggala, salah satu kerajaan besar di Jawa Timur yang berkembang setelah pembagian Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11. Letaknya yang berada di kawasan hilir Sungai Brantas menjadikan wilayah ini berkembang sebagai pusat pertanian, pelayaran, dan perdagangan yang menghubungkan daerah pedalaman dengan kawasan pesisir utara Jawa.
Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah Sidoarjo dikenal dengan nama Sidokare dan merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Pemerintahan Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama Raden Ngabei Djojohardjo yang berkedudukan di Kampung Pucang Anom dan dibantu oleh seorang wedana, Bagus Ranuwiryo, yang berkedudukan di Kampung Pangabahan.
Perkembangan administrasi pemerintahan mengalami perubahan penting ketika Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Keputusan Nomor 9 Tahun 1859 tanggal 31 Januari 1859 (Staatsblad Nomor 6 Tahun 1859) yang membagi Kabupaten Surabaya menjadi dua wilayah, yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokare. Kabupaten Sidokare dipimpin oleh Raden Notopuro yang kemudian bergelar Raden Tumenggung Prawiro Tjokronegoro, putra Bupati Surabaya.
Selanjutnya, pada 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo, nama yang digunakan hingga sekarang. Pergantian nama tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah pemerintahan daerah yang kemudian turut memengaruhi perkembangan desa-desa di wilayahnya, termasuk Desa Kendalpecabean.
Setelah wafatnya R.T.P. Tjokronegoro pada tahun 1862, pemerintahan Kabupaten Sidoarjo dilanjutkan oleh R.T.A.A. Tjokronegoro II, kemudian oleh R.P. Sumodiredjo, dan selanjutnya R.A.A.T. Tjondronegoro I. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda inilah sistem administrasi desa semakin tertata melalui pendataan wilayah, pemetaan topografi, pencatatan pertanahan, serta pembangunan jaringan irigasi yang mendorong perkembangan kawasan pertanian di wilayah Sidoarjo.
Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), wilayah Sidoarjo berada di bawah pemerintahan militer Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, wilayah Sidoarjo menjadi salah satu daerah yang mengalami dinamika perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer, pusat pemerintahan Kabupaten Sidoarjo sempat dipindahkan ke Porong, kemudian ke Jombang akibat pendudukan Belanda. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949, wilayah Sidoarjo kembali menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memasuki masa pembangunan pemerintahan daerah.
Sebagai bagian dari Kabupaten Sidoarjo, Desa Kendalpecabean turut mengalami perkembangan dari desa agraris menjadi desa yang terus tumbuh mengikuti dinamika pembangunan daerah. Pembangunan infrastruktur, pertanian, permukiman, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik terus mengalami peningkatan seiring berkembangnya Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu daerah penyangga utama Kota Surabaya.
Penelitian Sejarah Desa
Hingga saat ini belum ditemukan prasasti, naskah kuno, maupun arsip kolonial yang secara tegas menjelaskan awal berdirinya Desa Kendalpecabean. Oleh karena itu, kajian sejarah desa masih terus dikembangkan melalui pendekatan historiografi, toponimi, geografi sejarah, tradisi lisan masyarakat, serta penelusuran arsip pada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Nationaal Archief Belanda, KITLV, Leiden University Digital Collections, serta arsip Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Kajian tersebut diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai asal-usul Desa Kendalpecabean, sekaligus menjadi dasar dalam pelestarian nilai sejarah, budaya, dan lingkungan sebagai bagian dari identitas masyarakat desa.
Dengan memahami sejarahnya, masyarakat Desa Kendalpecabean diharapkan semakin memiliki rasa bangga, memiliki, dan bertanggung jawab untuk menjaga warisan budaya serta membangun desa secara berkelanjutan demi kesejahteraan generasi sekarang dan yang akan datang.



Mochamad Junaidi
02 Oktober 2026 01:45:08
terimakasih atas pelayanannta...